Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan temuan pada 2026 bahwa siklus air bumi semakin tidak seimbang. Laporan menunjukkan cadangan air global kini telah menyusut dengan cepat. Apakah bakal ada krisis?
Menurut WMO, ketidakseimbangan sumber daya air terlihat dari sebagian wilayah yang mengalami kekeringan hebat, sedangkan wilayah lainnya mengalami banjir dahsyat. Ini menunjukkan bahwa siklus air menjadi lebih tidak menentu dan tidak dapat diprediksi.
Sebagaimana laporan dari United Nations, 2025 merupakan salah satu tahun terkering untuk aliran sungai di seluruh dunia dalam 35 tahun terakhir, dengan debit di bawah normal yang terjadi setidaknya pada 36 persen di seluruh wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) dunia.
Dalam laporan tahunannya, WMO menyebut bahwa bahkan berkurangnya cadangan air global, salah satunya disebabkan oleh perubahan iklim.
"Volume total air yang tersimpan di benua-benua terus menurun," kata Robert Reinecke dari Johannes Gutenberg University Mainz yang telah membantu menyusun laporan tahunan ini sejak 2022, dikutip dari earth.com.
Lantas, apa saja yang memengaruhi berkurangnya cadangan air global?
Sumber Cadangan Air Global yang Kian Menyusut
1. Aliran Sungai
Sejak 2021, volume air sungai di seluruh dunia telah menurun secara konsisten dibandingkan dengan periode yang sama dari 1991 hingga 2020.
Menurut WMO, kekeringan ini terjadi secara terus-menerus selama tujuh tahun terakhir. Air sungai yang volumenya tetap normal justru menjadi 'minoritas' karena kebanyakan air sungai telah berkurang. Untuk memberi gambaran, air sungai dengan volume normal hanya sebanyak 34 hingga 38 persen dari total DAS.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menjelaskan bahwa ketidakstabilan perubahan cadangan air ini menyebabkan bencana alam, seperti banjir dan kekeringan, menjadi tidak menentu dan tidak dapat diprediksi.
2. Air Tanah
Air tanah juga mengalami hal serupa, di mana ada penurunan di 65 persen titik pemantauan WMO dibandingkan dengan periode yang sama di masa lampau.
Celeste Saulo menjelaskan bahwa cadangan air terbentuk dan terkuras secara bertahap. Positifnya, satu kali kemarau ekstrem melanda, tidak langsung menjadi krisis besar karena adanya cadangan air tersebut. Kini, cadangan tersebut semakin menipis.
3. Gletser
Gletser telah kehilangan sekitar 400 gigaton massa dan hal ini telah terjadi selama empat tahun berturut-turut di seluruh wilayah gletser.
Mencairnya gletser yang masif ini tidak diikuti oleh pembentukan yang jumlahnya setara. Sehingga dapat disimpulkan bahwa es yang mencair jauh lebih banyak dibandingkan dengan es yang terbentuk.
Untuk memberikan perbandingan jumlah es yang mencair sejak 2023, total terdapat 1.400 gigaton. Jumlah ini setara dengan 560 juta kolam renang ukuran Olimpiade.
Di tahun-tahun yang akan datang, beberapa gletser akan lebih sedikit mencair karena cadangan esnya sudah semakin menipis.
Salah satu contoh nyata telah terlihat di perbatasan Nepal dan Tibet beberapa waktu lalu. Banjir bandang terjadi akibat melelehnya gletser.
Apa Penyebab Utama Cadangan Air yang Menyusut?
Robert Reinecke mengungkapkan bahwa dua faktor yang paling memengaruhi berkurangnya jumlah cadangan air global adalah perubahan iklim dan penggunaan air tanah oleh manusia.
"Atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak air (dari gletser) dan pada saat yang sama, penguapan meningkat. Dan kita manusia memindahkan sejumlah besar air tanah ke lautan dan atmosfer, misalnya dengan menggunakannya untuk irigasi," katanya.
Dua hal ini secara bersamaan dan efektif mengeringkan benua-benua. Meski begitu, air tidak sepenuhnya hilang dari Bumi. Hanya saja, dampaknya dapat dirasakan bukan oleh penduduk di satu wilayah saja, melainkan di berbagai penjuru Bumi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran karena 2025 ditandai dengan suhu air yang jauh lebih tinggi, sebuah perubahan yang menciptakan masalah nyata bagi ekosistem perairan dan kualitas air secara lebih luas.
Ke depan, kolaborasi penelitian akan melacak siklus air yang semakin tidak seimbang setiap tahunnya.
Baca artikel detikedu, "Ngerinya Cadangan Air Global yang Kian Menyusut, Bakal Ada Krisis?" selengkapnya https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8679503/ngerinya-cadangan-air-global-yang-kian-menyusut-bakal-ada-krisis.
Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Berita Terkait
- 5 Hal Terungkap dari Kematian Alvaro Bocah yang Hilang 8 Bulan di Jaksel
- Bahlil Bocorkan Jenis BBM yang Harganya Bakal Naik!
- Apa Itu Hantavirus? Virus yang Tewaskan 3 Penumpang Kapal Pesiar
- Suapan Terakhir Ojol Korban Begal yang Jadi Kenangan Istri
- Ngerinya Bentrokan Maut di Menteng Dipicu Masalah saat Sarapan

