TEKNOLOGI
Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup: Dilema Warga Eropa Pakai AC
Sumber : Detik.com / Oleh : admin / Kategori : TEKNOLOGI / Post date : 29-06-2026



Banyak orang Eropa sejak lama menganggap AC sebagai kemewahan tidak perlu, mahal, dan penyumbang emisi karbon. Namun, seiring musim panas di benua itu yang semakin panas dan merenggut korban, pandangan mulai berubah.

Sepekan terakhir, 40 orang tewas tenggelam di Prancis saat mencari tempat berendam. Di Spanyol, suhu mencapai sekitar 44 derajat C, dan Inggris menghadapi bulan Juni terpanas. Setiap tahun menurut WHO, cuaca panas merenggut rata-rata 175.000 nyawa di Eropa.

Penggunaan AC dapat memangkas tingkat kematian akibat panas hingga 75%, menurut studi tahun 2007. Riset The Lancet menemukan di 2019, 195.000 kematian terkait cuaca panas pada kelompok lansia di atas 65 tahun berhasil dicegah berkat adopsi AC. Namun hanya sekitar 20% orang Eropa memiliki AC di rumah, berbanding 90% di Amerika Serikat.

Budaya, Biaya, dan Iklim

Sebagian dari keengganan warga Eropa untuk memasang AC mungkin berasal dari sikap stoikisme historis mereka. Karena AC tidak pernah digunakan pada masa lalu, tidak seharusnya dibutuhkan sekarang.

Sebagian besar wilayah Eropa, setidaknya hingga beberapa dekade terakhir, memang tak benar-benar butuh AC. Faktor biaya juga menjadi penghalang. Minimnya pasokan gas alam domestik di banyak negara Eropa mengharuskan mereka mengimpornya, membuat biaya energi di Eropa lebih tinggi dengan gaji lebih rendah dari AS.

Banyak warga Eropa juga dihantui rasa bersalah terhadap dampak iklim penggunaan AC. Penggunaan AC menyumbang 4% total emisi gas rumah kaca global, dua kali lipat industri penerbangan.

Sekarang, musim panas di wilayah selatan jadi ekstrem sehingga trik arsitektur tradisional yang digunakan berabad-abad tak mempan. Sementara di utara, rumah yang didesain menahan udara panas agar penghuninya tidak kedinginan, berubah bak "tungku pembakaran" saat musim panas.

Di Italia, ribuan kematian selama gelombang panas tahun 2003 jadi titik puncak kesabaran. Musim panas tahun itu, diperkirakan hanya 10-15% rumah tangga punya AC. Namun di 2024, angkanya meroket menjadi 56%. Italia kini menyumbang sepertiga seluruh penggunaan listrik untuk AC di Eropa.

Di Prancis, yang minggu ini mengalami hari-hari terpanas, toko-toko mulai kehabisan AC. Di Inggris, sekitar empat juta rumah kini memiliki AC, dua kali lipat dibanding tiga tahun lalu.

Bagi Katie di London, memasang AC tidak pernah terlintas, baik karena biaya mahal maupun dampak lingkungan. "Biasanya Anda hanya akan terkapar lemas di sofa dan sekadar mencoba bertahan hidup," katanya. Namun, pandangan itu berubah. Ia dan pasangannya memutuskan membeli AC setelah punya anak.

"Rasa bersalah terhadap iklim yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibanding prioritas untuk memastikan bayi saya memiliki tempat tidur aman. Siapa pun yang pernah terjebak selama sejam bagai di neraka, bercucuran keringat sambil mencoba menidurkan bayinya, pasti akan langsung membeli AC, percayalah," katanya.

Guna mencegah tren perluasan penggunaan AC ini semakin memperburuk perubahan iklim, pakar menekankan pentingnya pemasangan AC modern yang efisien listrik, ditenagai energi terbarukan seperti tenaga surya.

Uni Eropa sendiri berambisi menjadi kawasan netral iklim pada tahun 2050. Guna mewujudkannya, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Yunani mulai membatasi sejauh mana batas pendinginan ruangan diizinkan di gedung publik selama musim panas.

Masyarakat pun disarankan menggabungkan dua solusi, yakni mengombinasikan AC bertenaga surya dengan langkah old school ala masyarakat kawasan Eropa selatan.

Baca artikel detikinet, "Antara Rasa Bersalah dan Bertahan Hidup: Dilema Warga Eropa Pakai AC" selengkapnya https://inet.detik.com/science/d-8550304/antara-rasa-bersalah-dan-bertahan-hidup-dilema-warga-eropa-pakai-ac.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Berita Terkait