Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI akan melakukan aksi demontrasi di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (12/6/2026). Berdasarkan pantauan Liputan6.com, mahasiswa UI mulai berdatangan dan berkumpul di lapangan parkir FISIP Universitas Indonesia.
Ketua Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI, Albani Hilmi memperkirakan akan ada seribu mahasiswa yang bertolak dari UI.
Albani menjelaskan, BEM UI akan bergerak ke Jakarta setelah seluruh mahasiswa berkumpul. Diperkirakan sebelum salat Jumat sudah berada di Jakarta. Setelah salat Jumat, BEM UI akan melaksanakan aksi unjuk rasa menyampaikan sejumlah tuntutan.
"Kami akan menjalankan aksi nanti setelah salat Jumat, kita menghormati kawan-kawan yang salat Jumat terlebih dahulu," jelas Albani.
BEM UI akan membawa lima tuntutan. Mulai dari penghentian pemborosan anggaran APBN, menurunkan harga BBM, menurunkan harga kebutuhan pokok, memberhentikan program MBG, penghentian program Kopdes. Selain itu, BEM UI turut menuntut penghentian adanya militerisasi di ranah sipil.
"Kita meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahannya dan juga menyadari bahwa beliau sedang salah gitu," tegas Albani.
Pada demo hari ini, BEM UI membawa tema Menuju Indonesia Bangkrut. BEM UI melihat sejumlah sektor fiskal, moneter, dan pasar modal di Indonesia, sedang menuju ke krisis ekonomi.
"Kami minta agar pemerintah sebetulnya cepat mengakui kesalahan itu, cepat memperbaiki kesalahan itu," terang Albani.
Alasan Turun ke Jalan
Sebelumnya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Yatalathof Ma’shum Imawan atau Athof menjelaskan, alasan di balik aksi demo yang akan digelar di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Jumat 12 Juni 2026.
“Kami memandang memberi kesempatan dan waktu (untuk pemerintah) sudah terlalu lama kita coba. Karena kritik lewat data juga sudah disampaikan dan selalu diabaikan, lebih-lebih karena pemerintah memilih mengelak alih-alih bertanggung jawab,” kata dia dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Athof, kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat tidak sejalan dengan angka pertumbuhan yang selama ini disampaikan pemerintah.
Dia menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan yang disebut semakin sempit, hingga beban pajak yang dinilai memberatkan masyarakat.
“Kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, tapi di meja makan rakyat tidak ada yang berubah. Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat dihajar pajak,” ungkap Athof.
Dia juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Dalam kesempatan itu, BEM UI juga menyinggung persoalan pajak UMKM, kebijakan sektor pertambangan, hingga isu militerisme di lingkungan sipil dan kampus.
“Semua itu yang membuat kami harus turun ke jalan,” katanya.
