Bayu Fedra Abdullah (25), Muh. Fani Akbar (25), dan Muhammad Alifa Ramdhan (23) dulunya cuma bocah daerah dengan hidup sederhana. Kini, mereka sukses di bidang teknologi.
Fedra (King) berasal dari Solo, Fani (Rhama) dari Dompu, Bima, sementara Ramdhan berasal dari Tangerang Selatan. Ketiganya bersatu menjadi sebuah tim ketika masih usia belasan tahun, sekitar 16-17 tahun.
"Menurutku yang keren tuh, walaupun kita masih SMK ya, tapi kita bisa bersaing di level umum dan nasional. Dan waktu itu kita sering banget juara. Bahkan sering banget kita dulu juara satu," kenang Fedra dalam wawancara bersama detikINET, Kamis (19/2/2026).
Awal mula, ketiganya bertemu di komunitas Reversing.ID. Dengan cepat, mereka langsung mendapatkan chemistry dan memutuskan untuk menjadi sebuah tim. Fani lah yang inisiatif mengajak mereka untuk ikut kompetisi pertama yakni Slashroot CTF.
Pada saat pertama kali menang dan mendapatkan Rp 3-5 jutaan pada 2017 (Fedra tidak ingat betul berapa nominal pastinya), mereka bersorak bahagia dan membagi rata hadiah mereka.
Perjuangan Fedra dan kawan-kawan
Kata mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta ini, mereka semua berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ketika mengikuti kompetisi, mereka harus menyediakan uang pendaftaran yang tidaklah sedikit. Oleh karena itu, mereka bertekad untuk selalu menang.
"Waktu itu kita kan backgroundnya sama-sama bukan dari keluarga yang berada dan ya, ekonominya nggak baik gitu, lah. Kita tuh ibarat lomba itu udah kayak kerja. Jadi, kita dapat duit itu dari lomba. Waktu itu kan kalau kompetisi gitu ada biaya pendaftaran biasanya," ujar Fedra.
Perangkat mereka juga bisa dibilang bukan perangkat mahal, seadanya saja. Namun, itu tidak semua mematahkan semangat mereka.
Fedra cs yang saat itu masih bocah tak jarang berhadapan dengan tim yang usianya sudah jauh matang seperti mahasiswa atau orang kepala dua dan tiga. Secara pengalaman, juga mungkin lebih kaya. Akan tetapi, mereka tak gentar untuk terus berupaya memberikan yang terbaik.
"Kalau misal kita nggak menang, kita rugi, tapi kita selalu dapet juara, sih. Walaupun itu satu, dua, tiga," kenangnya.
"Aku ngerasa kita selalu nganggep senang-senang bareng, sih," imbuhnya.
Ketika bicara kompetisi di bidang cyber security, ada beberapa kategori yang membuat tim harus betul apa keahlian dan kekuatan masing-masing anggota. Menurut Fedra, ia, Ramdhan, maupun Fani punya keahlian berbeda.
"Ramdhan ini walaupun dia paling bocah, tapi dia itu jago banget. Aku berani debatin siapapun, sebelum ada AI, ya, aku nggak pernah lihat ada bocah yang lebih jago dari Ramdhan," tutur Fedra.
Ramdhan cukup canggih di bidang Binary Exploitation dan Reverse Engineering. Sementara dia dan Fani piawai di bidang-bidang seperti Web, Apps Hacking / Exploit, Kriptografi, Digital Forensic, dan Server Hardening. Ya, bantu-bantu Reversing juga, lah.
Menjadi tim dan terus juara, pada akhirnya mereka pun tumbuh dewasa. Selama lima tahun menjadi tim, mereka memutuskan fokus bekerja.
Menjadi ahli di bidang cyber security
Fedra dan kawan-kawan akhirnya memutuskan solo karier. Nama Fedra pun sempat diviral semenjak dirinya menjadi hacker asal Solo yang memperkenalkan tools buatannya di ajang konferensi global BlackHat MEA dan BlackHat Europe.
"Seluruh prestasi dan penghargaan saya sekarang, juga prestasi dan penghargaan mereka berdua," aku Fedra.
Waktu berlalu, Fedra kini menjadi seorang Application Security Engineer di Singapura. Begitu pula teman-temannya yang turut berkarya di Negeri Singa.
Ramdhan bahkan telah menjadi Low Level Security Researcher pertama di Indonesia.
Kendati sudah sama-sama sibuk, persahabatan mereka masih tetap terjalin. Mereka sering pergi traveling bersama.
"Kadang kita main bareng. Bahkan kemarin, tahun kemarin kita ke Jepang bareng. Terus ke Singapura bareng. Aku kalau sama si Fani ini mungkin hampir tiap 1-2 minggu ketemu soalnya dia tinggal di Yogyakarta. Kalau si Ramdhan tinggal di Singapura," ungkapnya.
