NASIONAL
Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Ramadan, Menu dan Waktu Disesuaikan
Sumber : perkuadmedia.id / Oleh : akbar / Kategori : NASIONAL / Post date : 30-01-2026



Perkuadmedia - Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, menu serta waktu pembagian akan disesuaikan bagi penerima manfaat yang menjalankan ibadah puasa agar tetap aman dan layak dikonsumsi.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa khusus penerima manfaat yang berpuasa, menu makanan basah akan diganti dengan makanan kering. Langkah ini dilakukan untuk mencegah makanan basi sebelum waktu berbuka puasa.

“Untuk yang puasa, menunya kita ubah menjadi makanan kering seperti kurma, telur rebus atau telur asin, buah, susu, dan abon,” ujar Dadan saat ditemui di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).

Selain penyesuaian menu, waktu pembagian MBG juga mengalami perubahan. Untuk siswa sekolah di daerah dengan mayoritas penduduk berpuasa, makanan akan dibagikan pada siang hari saat jam sekolah dan dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka.

“Anak sekolah akan menerima makanan di siang hari untuk dibawa pulang dan dijadikan menu berbuka,” jelasnya.

Sementara itu, bagi penerima manfaat yang berada di pondok pesantren, MBG tetap disajikan dengan menu normal, namun waktu pembagiannya digeser ke sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Adapun ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta penerima manfaat yang tidak berpuasa tetap menerima MBG dengan menu dan waktu seperti biasa.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia telah mencapai 22.091 unit, dengan total penerima manfaat lebih dari 60 juta orang.

“Penerima manfaat sudah lebih dari 60 juta,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Jakarta.

Ia menambahkan, cakupan penerima MBG untuk anak usia sekolah telah mencapai rata-rata di atas 90 persen di sekolah-sekolah yang sudah memiliki SPPG. Namun, cakupan di pondok pesantren masih relatif rendah.

“Untuk sekolah sudah hampir merata, sekitar 90 sampai 95 persen. Tapi di pesantren masih sekitar 20 persen, ini yang akan terus kita sinkronkan datanya,” ujarnya.

Pemerintah juga berencana melakukan evaluasi jangka panjang terhadap program MBG dengan mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, termasuk pertumbuhan otak.

“Nanti akan kita ukur setelah satu tahun, dua tahun, hingga seterusnya, bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan anak,” tutup Zulhas.


Berita Terkait