Aksi protes besar-besaran di Iran terus meluas dan semakin mengkhawatirkan. Hingga Selasa, 13 Januari 2026, lebih dari dua ribu orang dilaporkan tewas sejak demonstrasi pecah akhir Desember lalu. Informasi jumlah korban disampaikan oleh seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya. Pemerintah setempat menyebut jatuhnya korban jiwa sebagai dampak aksi kelompok yang mereka labeli sebagai teroris.
Unjuk rasa pertama kali muncul pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar Teheran. Aksi itu dipicu kemerosotan ekonomi, termasuk pelemahan tajam nilai mata uang Rial. Protes kemudian meluas ke berbagai kota dan berkembang menjadi gerakan yang menantang pemerintahan teokratis yang memimpin Iran sejak revolusi 1979.
Seiring berjalannya waktu, demonstrasi tidak mereda dan justru diwarnai bentrokan serta kekerasan. Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan keras aparat keamanan terhadap pengunjuk rasa. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menegaskan bahwa siklus kekerasan di Iran tidak boleh berlanjut dan suara masyarakat yang menuntut keadilan dan kesetaraan harus didengar.
Di sisi lain, situasi memicu respons internasional. Amerika Serikat menyerukan warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut, menyusul pertimbangan kebijakan lebih lanjut terhadap Iran oleh Presiden AS Donald Trump. Kedutaan Besar virtual AS mengeluarkan peringatan keamanan yang meminta warga Amerika merencanakan keberangkatan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.
Prancis juga mengambil langkah serupa. Sejumlah staf non-esensial di Kedutaan Besar Prancis di Teheran telah dievakuasi dari Iran seiring eskalasi protes antipemerintah.
Hingga kini, kondisi keamanan di sejumlah kota masih tegang, sementara proses penyelidikan dan pemantauan internasional terus berlangsung.
